Minggu, 06 Januari 2013

RUSSIA


Russia Baru Dalam Bayang Over-Managed Democracy[1]

A.    Latar Belakang Masalah
Tanggal 25 Desember 1991 menjadi hari yang meruntuhkan sebuah negara federasi sosialis yang telah dibangun selama lebih kurang dalam tujuh dasawarsa yakni Uni Soviet dengan ditandai pengunduran diri presiden Mikhail Gorbachev pada satu hari sebelumnya. Sebagai negara federasi, Rusia menjadi sebuah negara republik terbesar yang ada. Sehingga Rusia menjadi negara yang mewarisi kebesaran Uni soviet.
Memulai sebagai negara demokrasi baru Rusia menyelenggarakan hajatan pemilihan pertamanya pada tahun 1996 untuk memilih parlemen atau Duma Negara pada bulan November, dan memilih presiden pada bulan Juni untuk putaran pertama dan Juli untuk putaran kedua yang masing-masing akan menjabat selama empat tahun.[2] Pada pemilu pertama terdapat empat partai dalam pemilihan Duma Negara yakni Partai Komunis Rusia (KPRF), Partai Liberal Demokrat (LDPR), Partai Rusia Rumah Kami  (NDR), dan Partai Yobloko. Sedangkan partai yang mengikuti pemilihan preside nada enam partai yang terdiri dari empat partai yang mengikuti pemilihan Duma Negara selain partai LDPR dan ditambah dua partai lain yakni Partai Agraria, dan Partai Demokrasi Vybor Rossii, serta Partai Kekuatan Untuk Rakyat.
Pada 4 Maret 2012 lalu bangsa Rusia telah menyelenggarakan pemilihan umum presiden yang dimenangkan oleh Vladimir Putin dengan suara yang berhasil diraih adalah 63,5% melalui partai United Russia atau Russia Bersatu.[3] Kemenangan Putin atas empat lawan politknya yang saling memperebutkan untuk menjadi nomor satu di Rusia ini menjadi jalan Putin untuk kembali memimpin Rusia untuk kali ketiga setelah pada tahun 2000 ia memenangi pemilu hingga tahun 2004 untuk periode pertama dan sampai tahun 2008 diperiode keduanya. Konstitusi Rusia melarang seseorang untuk menduduki jabatan presiden tiga kali secara berturut-turut, maka kemenangan Putin ini melegalkan Putin untuk kembali memimpin Rusia untuk enam tahun kedepan dan mengembalikan jabatanya sebagai Perdana Menteri (PM) kepada Medvedev yang sebelumnya menjadi presidenya saat ia menjadi PM.
Pemilah kepala negara maupun pemerintahan secara langsung merupakan salah satu instrumen yang harus ada dalam sistem demokrasi karena ia bagian dari demokrasi secara prosedural.[4] Variabel demokrasi ini pula membawa terhadap implikasi indikator-indikator yang harus dipenuhi seperti hak untuk memilih, hak untuk menduduki jabatan publik, bebas dan jujur.[5] Ketika pemilihan presiden tahun 2012 yang dimenangkan oleh Putin menuai berbagai kritikan dan tuduhan mengenai penyelenggaraanya yang melibatkan berbagai macam kecurangan. Belum lagi aksi-aksi yang terus dilancarkan pasca terpilihnya untuk menolak Putin dan memprotes wewenangnya terhadap media pemerintah yang pemberitaanya dianggap mengutamakan pemerintah, serta reaksi pemerintah terhadap para demonstran yang dinilai oleh Human Rights Watch (HRW) tidak mengutamakan pemenuhan HAM masyarakat.

B.     Pendekatan dan Landasan Konseptual
1.      Pendekatan Elektoral Demokrasi atau Demokrasi Prosedural
Para pengamat atau para ilmuan yang banyak berkontribusi dalam pendefinisan demokrasi melihat baik secara implisit maupun eksplisit ada empat tipe dalam mendefiniskan demokrasi, yakni pendekatan demokrasi konstitusional, demokrasi subtantif, demokrasi procedural, dan berorientasi pada proses (process-oriented).[6] Pendekatan demokrasi konstitusional melihat demokrasi menekankan pada sebuah bentuk maupun sistem negara seperti monarki, oligarki, repulik atau jenis-jenis lain yang dipakai. Pandangan sedikit memberikan pembedaan pula terhadap sistem pemerintahan seperti presidensil atau parlementer, dan sedikit mengindahkan apakah suatu negara menggunakan sistem federal atau unitari.
Pandangan yang kedua yakni demokrasi subtantif merupakan pendefinisan demokrasi yang luas dan komprehensif yang ditawarkan oleh david Held yang menyatukan pandangan liberal dan tradisi Marxis[7] yang juga disebut otonomi demokrasi yang mengutamakn substansi seperti self-management (manajemen diri), dan hak-hak manusia (bill of Rights). Dalam arti sederhana demokrasi substansi melihat pada kondisi dimana sistem politik mendorong rezim untuk mempromosikan hak-hak manusia, kebebasan individu, keamanan, kesetaraan, keadilan sosial pertimbangan public, dan resolusi konflik secara damai.[8]
Sebelum membahas mengenai demokrasi prosedural maka secara singkat perlu kita tahu pendekatan lain dalam melihat demokrasi yaitu process-oreinted democracy. Berbeda dari tiga pendekatan, pendekatan ini memandang sekecil apapun indicator demokrasi harus terus dijalankan demi tercapainya demokrasi yang memnuhi syarat. Didalamya ada beberapa indicator yaitu: effective participation, voting equality, enlightened understanding , control of the agenda, dan inclusion of adults.
Keempat adalah pendekatan demokrasi prosedural yang biasanya digunakan untuk menganalisis suatu negara demokrasi baru. Pengertian demokrasi prosedural juga boleh kita katakan sebagai pengertian secara sempit. Para observer menitik beratkan perhatian terhadap pemilihan (election), menanyakan pemilihan yang kompetitif, serta keterlibatan individu maupun kelompok sehingga mampu mempengaruhi kebijakan (preferensi).[9] Freedom House memberikan beberapa prasyarat negar yang dapat disebut sebagai negara demokrasi procedural yaitu: 1) persaingan, adanya sistem multi partai; 2) hak pilih bagi orang dewasa; 3) pemilihan yang secara konsisten digelar dengan jaminan kerahasiaan, keamanan, dan jaminan tiadanya kecurangan dalam memberikan hak suara yang tidak merepresetasikan sebagai preferensi masyarakat; dan 4) adanya ketersediaan terhadap media, kampanye politik yang bisa diakses oleh masyarakat dan partai politik.[10]
Schumpeter berpandangan bahwa demokrasi secara sedrehana ialah sebuah metode politik, sebuah mekanisme untuk memilih pemimpin politik.[11] Bagi Schumpeter demokrasi ialah sebuah sistem untuk memproses konflik dimana kompetisi untuk mencapai kekuasaan lewat pemilihan umum dan pihak yang kalah dalam pemilihan tidak merusak rezim. Pemilihan pemimpin ini juga merupakan bagian dari interpretasi bahwa “kehendak semua” tidak dapat dijalankan karena sangat utopis sehingga hal yang mungkin untuk diupayakan adalah “kehendak mayoritas.”[12]
Selain Schumpeter tokoh lain yang dianggap banyak memberikan kontribusi dalam pendapatnya menganai indikator-indikator demokrasi dalam mata demokrasi prosedural adalah Robert Dahl. Indikator-indikator ini akan memudahkan kita bagaimana memahami demokrasi sebagai sistem politik. Dahl menitik beratkan pada semangat kontes atau kompetisi dan partisipasi. Preferensi masyarakat juga menjadi perhatian Dahl dalam kaitanya masyarakat harus memiliki ruang dimana kepentinganya bisa diupayakan dan dipertimbangkan secara setara dalam pembuatan kebijakan ole pemerintah. Untuk menciptakan kondisi semacam ini Dahl mensyaratkan adanya jaminan terhadap kondisi[13] 1) kebebasan untuk membentuk dan bergabung dalam organisasi, 2) kebebasan berpendapat, 3) hak memilih dan dipiih, 4) hak menduduki jabatan publik, 5) hak untuk berkompetisi untuk memperoleh suatu jabatan, 6) tersedianya sumber-sumber informasi alternative (media), 7) terslenggaranya pemilihan yang umum, bebas, serta rahasia, dan 8) adanya lembaga yang dapat menjamin agar kebijakan publik berdasarkan pada prefernsi publik. Pendapat Dahl secara sederhana memberikan keutuhan demokrasi prosedural dengan konsepsi oposisi atau persaingan yang terbuka, teratur, bebas, rahasia, dan kebebasan sipil.
Disisi lain Larry Diamond mengistilahkan secara sederhana apa yang disebut sebagai demokrasi preosedural dengan berbagai indicator dan syarat-syaratnya dengan istilah demokrasi elektoral (electoral democracy). Demokrasi elektoral memberikan definisi konsep ini sebagai konsep minimalis demokrasi yang melihat pada pentingnya tingkat kebebasan bak berbicara, pers atau media, berorganisasi atau berserikat guna mendorong terciptanya iklim kompetisi yang kuat. Demokrasi elektoral yang hanya mementingkan pemilihan umun akan menimbulkan “kekeliruan elektoralisme.”[14] Diamond menyebut adanya demokrasi elektoral ketika melihat demokrasi procedural menurut Schumpeter sebagai standar demokrasi.
Ringaksnya demokrasi elektoral ialah sebuah sistem konstitusional yang menyelanggarakan pemilihan umum yang teratur secara terbuka, langsung, yang kompetitif untuk memilih eksekutif maupun legislatif. Kebebasan individu untuk dapat berkompetisi sebagai kandidat yang mengusulkan diri sebagai calon pemimpin maupun untuk memilih calon pemimpin sebagai kebebasan sipil.
2.      Decorative Democracy dan  Over-Managed Democracy
Decorative democracy atau yang kadang kala disebut sebagai managed democracy ialah suatu sistem politik dalam pemilihan dimana elit yang merasa enggan untuk menjalankan pemilihan sebagai proses prekondisi sebelum mencapai kekuasaan berupaya mengkontrol untuk menentukan pemilihan sehingga hasilnya sesuai dengan harapan.[15] Decorative Democracy merupakan sebuah sistem kotor yang penuh dengan trik, dimana didalamnya terdapat indicator-indikator untuk menyatakan sebagai decorative democracy. Indicator yang digunakan untuk mengukur decorative democracy antara lain[16]: 1) upaya menghalangi atau menghambat pembentukan partai politik lain, 2) media digunakan dengan kejam sebagai media untuk mempromsikan mereka dan mencemarkan atau menyebarkan keburukan oposisi mereka, 3) komisi pemilihan mengabaikan laporan mengenai kecurangan dalam pelmilihan dan mjustru menghukum yang minor, dan 4) membuat pemilih partai oposisi merasa bingung atau dengan melakukan kecurangan pemilihan.
Secara umum managed democracy ialah upaya seseorang (partai atau rezim) untuk menciptakan pemerintahan yang mampu mengkontrol hampir semua aspek kehidupan politik hingga kehidupan sipil.[17] Karakteristik dari managed democracy ini adalah adanya pengekangan atau penindasan terhadap aspek-aspek demokrasi seperti media, keluwesan untuk membentuk atau bergabung dalam organisasi atau kelompok kepentingan, dan memudar bahkan menghilangnya aspek kebebasan individu atau civil rights.
Diatas managed democracy, over-managed democracy adakalanya memahami dan menjelaskan pemerintahan atau rezim seperti hybrid rezim (rezim yang mengkombinasikan elemen-elemen demokrasi dan autocracy).[18] Over-managed Democracy (OMD) disebut sebagai sebuah sistem yang memungkinkan pemerintah untuk menghapuskan sistem kontrol publik dan akuntabilitas pemerintah dalam mewujudkan preverensi sebagai prosedur negara yang demokrasi.[19] OMD dipahami sebagai sebuah “tipe ideal” Weberian dimana ketidak hadiran indikator dan prosedur serta substantive demokrasi sebagai sebuah bentuk yang ideal atau murni yang menyaring dan menyoroti hal-hal yang perlu (esensial) dalam pendekatan yang logis oleh sebuah rezim dalam menentukan derajat pemerintahan di berbagai negara.[20]
OMD merupakan sistem yang merefleksikan tiga temuan utama dalam rezim Rusia dibawah Putin yakni sistem ini telah memungkinkan pemimpin Rusia ini untuk memerintah tanpa pakta non-partisipasi dari sipil dengan menggunakan represi. Kemudian rezim ini telah melaksanakan kembali sentralisasi yakni pada awal kepemimpinan Rusia sepeninggalan Gorbachev yang menyimpang dari sistem sosial yang ideal. Ketiga adalah kemungkinan untuk menciptakan iklim dimana oposisi tereliminasi dan bahkan terdesak dari kemungkinan untuk menciptakan subtitusi demi terselenggaranya institusi demokrasi.
OMD secara tepat menjelaskan bahwa rezim yang berwenang tidak akan benar-benar menyerah terhadap demokrasi, sehingga ia tidak pula akan menghapus secara signifikan seluruh aspek utama dari demokrasi. Mereka tidak akan menjadi otoritarian secara penuh demi menjaga atau memelihara kesinambungan dari rezim tersebut dengan keuntungan dari sistem demokrasi. Hal ini kemudian menganalogikan OMD sebagai “ democratic cake” yang mana rezim incumbent akan mereka makan. Inilah mengapa negara dengan OMD tidak secara seluruh dapat dinyatakan sebagai negara demokrasi namun terkadang ia dijelaskan sebagai negara hybrid.
Sistem ini memperlihatkan bahwa sistem para penguasa yang berupaya memperoleh keuntungan dari sistem demokrasi tanpa melalui pertarungan dalam pemilihan, rezim ini dipaksa untuk memperhatikan paling tidak opini publik sebagai demos dari demokrasi. Inilah yang menjadi salah satu landasan mengapa rezim OMD mengambil media sebagai kontrol opini.  Dalam kasus yang nantinya akan digunakan untuk menjelaskan Rusia dibawah Putin, ada tiga tahapan atau peringkat control dibawah sistem OMD Putin:[21] 1) sistem presidensial yang kuat menggantikan semua institusi dan aktor termasuk parlemen, judikatif, bisnis, dan elit regional; 2) negara mengontrol media, yang mana digunakan untuk membentuk opini public dengan pesan yang sudah terfilter; 3) sistem pemilihan yang terkontrol yang memungkinkan untuk melegitimasi keputusan yang dibuat oleh elit politik.

C.    Pembahasan
C.1 Rusia dalam Bingkai Demokrasi Elektoral
Rusia pada Maret 2012 lalu telah memiliki pemimpin baru setelah pemilihan yang kesekian kalinya dihelat sebagai tanda adanya kehidupan demokrasi disana. Pemilihan umum yang menjadi ciri atau indikator hadirnya demokrasi (prosedural demokrasi) di Rusia adalah buah dari upaya Gorbachev dalam meneyelamatkan soviet dari keterpurukan ekonomi dan politik akibat korupnya rezim serta bobroknya birokrasi dengan budaya monolitik yang semakin kuat. Upaya yang digalakan Gorbachev demi menyelamatkan Soviet dengan kebijakan Prestorika yang diartikan sebagai restrukturisasi atau reformasi dan kebijakan Glasnot (keterbukaan).
Kebijakan-kebijakan yang kemudian mengikuti dalam bidang ekonomi adalah sistem keterbukaan pasar, privatisasi, dan pembebasan harga barang kepada sistem pasar. Dalam bidang politik kebijakan ini menuai buntut panjang hingga mencapai proses pecahnya Uni soviet akibat menguatnya gerakan separatisme yang didahului denga kebijakan desentralisasi. Akibatnya kemudian berujung pada upaya kudeta meski gagal dan mengantarkan Gorbachev untuk menulis dan menyatakan sendiri pengunduran diri dari jabatanya sebagai presiden Uni Soviet pada tanggal 24 Desember 1991 setelah sebelumnya ia dihianati oleh demokrasi lewat pembentukan Commonwealth of Independence States atau CIS.[22] Dengan pengunduran diri Gorbachev dari kepemimpinanya diatas Soviet memberi arti bahwa USSR telah runtuh dan meninggalkan republic-republik berdaulat dengan Rusia sebagai pecahan republik terbesar sekaligus sebagai pewaris imperium Soviet.
Rusia berdasarkan konstitusi 1993 menyatakan diri sebagai negara yang menyandarkan kuasa eksekutif pada seorang presiden yang merupakan “mandor” bagi negara dan pemerintah, serta yang menjalankan legislasi atau perundang-undangan selain dari menciptakan dan menjaga terciptanya stabilitas politik.[23] Masa kepemimpinan seorang presiden adalah empat tahun dalam satu periode berdasarkan konstitusi 1993, namun mengalami revisi menjadi enam tahun.[24]
Pemilu tahun 2012 menjadi kemenangan ketiga bagi Vladimir Putin untuk memimpin negara Federasi Rusia setelah sebelumnya di tahun 2000 hingga 2008 ia memimpin Rusia dalam dua kali periode. Putin lolos sebagai peserta atau calon presiden setelah pada pemilihan Duma partainya memperoleh kemenangan beserta empat partai lain yang memperoleh kursi Duma yakni Gennadiy Zyuganov dari partai Communist Party, Vladimir Zhirinovskiy dari Liberal Democratic Party, Sergey Mironov dari Russia Party. Selain dari partai ada seorang pebisnis yang namanya lolos dalam pemilihan yakni Mikhail Prokhorov dengan mengumpulkan dua juta tanda tangan untuk registrasi. Sedangkan partai lain didiskualifikasi oleh Central Electoral Commission (CEC) antara lain oposisi dari partai Yobloko yaitu Grigoriy Yavlinskiy karena lebih dari 5% tanda tangan yang ia kumpulkan tidak absah[25]
Putin telah memenangkan pemilihan presiden hari Minggu dengan suara yang sangat besar, 63.6% dari jumlah suara. Sedangkan saingan terdekatnya ketua Partai Komunis Gennady Zyuganov, jauh di belakang dengan 17,25 persen suara. tokoh nasionalis Vladimir Zhirinovsky dan bilyuner Mikhail Prokhorov berada di posisi ketiga dengan sekitar 7 persen suara, dan Sergei Mironov, berada di urutan terakhir dengan perolehan 3,7 persen suara.[26]
Secara prosedural bisa dikatakan bahwa apa yang sedang dilakukan dan dipertontonkan oleh Rusia kepada dewan dunia akan sistem demokrasi Rusia dengan adanya pemilihan sesuai yang disebutkan oleh Schumpeter sebagai salah satu indikator untuk mengidentifikasi suatu negara sebagai negara demokrasi merupakan upaya logis Rusia. Rusia juga berupaya memperlihatkan sistem demokrasinya melalui sistem multi partai yang diterapkan dan diharapkan menimbulkan suatu dorongan untuk berkompetisi lebih fair. Selain dua indikator tersebut, Rusia dalam upaya menyelenggarakan demokrasi didalamnya berupaya untuk mendirikan institusi-institusi yang akan memberikan nilai akan akuntabilitasnya sebagai negara demokrasi semisal lewat pembentukan CEC dan Golos (pengawas pemilu Rusia), serta melenggangkan hadirnya para pengawas dari luar sebagai wasit dalam demokrasi Rusia seperti hadirnya Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE).
Meskipun secara prosedural demokrasi Rusia berupaya keras untuk mengimplementasikan nilai-nilai dan syarat-syarat demokrasi lewat pemilu, namun lewat sistem pemilu yang diikuti oleh Putin khususnya telah menunjukan banyaknya persoalan yang mengindikasikan bahwa Rusia telah jauh dari demokrasi. Demokrasi yang seharusnya mengutamakan preverensi masyarakat yang mampu memengaruhi proses pembuatan kebijakan lewat opini, atau media yang dapat secara akuntabilitas menjadi alat kontrol  terhadap pemerintah maupun sosial sehingga memberikan informasi secara seimbang, dan oposisi yang kalah terhadap rezim akan menjadi control terhadap pemerintahan dan akan menunggu hingga pemilihan selanjutnya secara tenang justru dalam keadaan yang berkebalikan.
Masyarakat pasca pemilu Desember (pemilu untuk Duma Negara) merasa tidak puas dengan pemerintah. Banyak aksi dilakukan guna menolak kembalinya Putin dalam pencalonanya menjadi presiden pada Marert 2012. Masyarakat juga meminta kembali kepada pemerintah terhadap kebebasan media yang telah diambil alih oleh pemerintahan Putin sejak tahun 2000 seperti NTV menuai perlakuan represif dari pemerintah. Belum lagi oposisi yang juga turut dalam aksi-aksi yang menolak Putin lewat penglihatan mereka atas pemilu yang dinilai tidak bebas dan terbuka (Free and fair) yang telah diindikasi sejak pemilihan Duma Negara pada Desember tahun 2011.[27]
Golos yang merupakan badan independen pengawas pemilu setidaknya mendapatkan 3000 laporan pelanggaran pemilu yang diantaranya dengan adanya praktek Carousel Voting, yaitu praktek pemindahan pemilih dari satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) ke TPS lain untuk memberikan suara lagi lewat muslihat menggunakan hak pilih warga yang tidak digunakan atau tidak datang dalam TPS.[28]
Menurut laporan surat kabar The Weeks (5/3/2012) setidaknya ada tiga cara yang dapat digunakan oleh Putin sebagai tindak kecurangan yang akan meloloskanya dalam kursi kekuasaan. Ketiga dugaan itu ialah: 1) pengisian kotak suara, 2) modus “komidi putar” ialah modus yang serupa dengan yang dipaparkan diatas dimana para pemilih dipindahkan menggunakan bus ketempat-tempat pemungutan suara secara bergilir, dan 3) Pengusiran Pemantau Pemilih, dimana dilaporakan sekitar 150 pemantau dipindahkan dari Moskow. Keterangan mengenai pengusiran pemantau pemilu ini datang dari keterangan miliuner Mikhail Prokhorov, dimana melaporakan bahwa para pemantau ini tidak diizinkan masuk ke tempat pemungutan suara dan di dua tempat bahkan ada yang dipukuli.[29]
Selain mempertontonkan demokrasi elektoral yang ditandai dengan adanya pemilu yang teratur secara terbuka, langsung, dan kompetitif dalam rangka memilih anggota legislative atau Duma Negara dan memilih eksekutif yaitu pemimpin negara atau presiden. Ada sebuah gelar yang disematkan pada Rusia sebagai negara yang tidak menjalankan demokrasi secara penuh dengan hadirnya pemenuhan hak-hak dasar sipil masyarakatnya. Kebebasan individu yang seharusnya dijamin dalam pentas politik untuk dapat mengusulkan diri sebagai pemimpin maupun untuk memilih sosok pemimpin yang dianggap akan menerima dengan terbuka pendapat publik.
C.2 Russia: Pergeseran dari Decorative Democracy Menuju Over-Manage Democracy
Dalam konteks Managed Democracy indikator-indikator yang ditunjukan rezim Putin sangatlah jelas seperti adanya upaya menghalangi atau menghambat pembentukan partai lain dalam hal ini pula menentukan kemulusan sebuah partai untuk melaju dalam catur politik pemilihan. Hal ini dapat terlihat dalam pemilu Maret 2012 ketika Grigoriy Yavlinskiy dari partai Opposisi Yobloko tidak dapat melanjutkan pemilihan akibat dari sistem yang tidak mengijikan ia melenggang ke arena kompetisi karena ia dianggap tidak bertanggung jawab atas lebih dari 5% suara yang ia dapat. Para kritikus berpendapat bahwasanya kemungkinan Grigoriy dieliminasi adalah karena kemungkinan dia adalah kandidat oposisi yang jujur atau dapat dieprcaya.[30]
Rusia dewasa ini menunjukan kegagalan partai sebagai salurang langsung dari timbale balik antara pemerintah dan masyarakat dimana peran sistem politik menjadi kurang signifikan. Medvedev dalam hal ini turut mengambil bagian dalam menjerumuskan sistem politik dimana ia mengusulkan amandemen yang memungkinkan partai politik untuk semakin kecil harapan lolos dalam registrasi. Apa yang dilakukan Medvedev ini merupakan decorative democracy. Upaya yang dialkukan Medvedev ialah dengan menaikan thresholds yang tadinya hanya 5 % menjadi 7% yang mana dalam pemilihan parlemen tidak ada partai yang terkualifikasi.[31] Inilah salah satu yang diprotes oleh masyarakat Rusia yang menganggap pemilu legislatif pada Desember 2011 penuh dengan kecurangan. Partai-partai banyak yang ditolak lantaran dianggap tidak memenuhi syarat seperti threshold.
Sistem partai yang ketika penulisan dimana sistem demokrasi akan dimulai menempatkan partai-partai untuk membatasi diri mereka dengan tipis antara peranya sebagai sebuah aktor tertinggi dalam sistem politik atau berada dalam masyarakat. Tawaran terbaiknya adalah mereka dapat memasuki parlemen lewat Duma Negara, namun partai akan dikontrol.[32]
Hal kedua yang menunjukan bahwa rezim Putin memberikan peluang bagi OMD untuk menjelaskan apa yang terjadi disana yaitu dengan adanya represi terhadap media diamana media digunakan sebagai alat untuk memprovokasi dan memberikan informasi satu arah serta tidak seimbang. Hal ini dapat kita ingat kembali dimana ketika Putin di tahun 2000 mengambil alih NTV dan berafiliasi dengan seorang pebisnis yang tidak lain adalah seorang raja media, political operator. Pengendalian media atas kuasa pemerintah sebenarnya telah dimulai sejak Yeltsin memimpin Rusia sebelum Putin guna mengontrol pemberitaan mengenai perang Cechnya. Namun Putin yang sejak 1999 telah bersiap untuk kampanye 2000 telah menggunakan NTV sebagai senjata untuk menghancurkan rivalnya.[33] Kemudian Putin menargetkan media MOST yang merupakan media non-pemerintah yang paling besar yang didirikan dan dimiliki oleh Vladimir Gusinsky meliputi radio yang berpengaruh. ORT dan RTR adalah media selanjutnya yang diincar oleh Putin. Boris Berezovsky mendorong Putin untuk maju dalam pamilu 2000. Pada Oktober 2000 dua media ini dibawah Kremlin.[34]
            Kemarahan massa akan sikap Kremlin yang dinilai bertindak tidak fair dalam pemilu ditambah dengan protes masa akan “kejahatan” pemerintah yang “menyandera” media (NTV) sebagai upaya membersihkan diri dengan menuduh para demonstran ataupun oposisi melakukan protes karena dibayar[35] menjadi bukti pemerintahan yang tidak mengindahkan prefernsi rakyat. Adanya sikap yang represif dan pembungkaman seperti dengan penangkapan aktivis oposisi Sergei Udaltsov yang ditahan karena ikut dalam aksi menjadi bukti juga bagaimana Rusia memperlihatkan sistem OMD.
Terma OMD digunakan untuk menjelaskan peningkatan sentralisasi atau yang disebut sebagai Verticality of Power.[36] Selain itu pada tahun 2004 Putin mengambil kebijakan yang mengatur pemilihan gubernur secara langsung dengan melarang pemilihan gubernur regional secara langsung. Selain itu Putin juga mengambil kebijakan pengetataan anggaran yang terpusat dari moskow. Hal ini memunculkan kembali tuduhan terhadap Rusia sebagai model Hybrid. Keuntungan-keuntungan dari sistem demokrasi yang memberikan jaminan bagi rezim incumbent untuk meneruskan kekuasaanya dengan menerapkan sistem dan kebijakan yang mematikan atau mengurangi syarat dan inikator demokrasi.
Kekuasaan yang bersifat presidensialisme akan bersifat menggerogoti demokrasi itu sendiri karena ia bersifat anti-konsensus, mengembalikan sistem politik dengan pola Zero-Sum Game, memberikan fasilitas terciptanya patronase, memihak pada satu partai, memperlemah eksekutif, dan menciptakan temperatur kontes diantara eksekutif dan legislatife. Maka kasus Rusia merupakan suatu gambaran peran sistem presidensial dari sudut negatif.[37]

D.    Kesimpulan
Rusia dengan wajah baru yang hendak ditampakan dalam percaturan politik dunia sebagai negara demokrasi Baru yang benar-benar baru (baru sekitar 21 tahun) masih banyak menuai kritikan. Konsep-konsep demokrasi untuk menjelaskan fenomena Rusia baru menuju demokrasi ini seolah tersebar dari A hingga Z. Demokrasi di Rusia hitunglah masih seumur jagung. Namun, dunia seakan tak mau lepas dari memandang bayi besar yang mencoba berjalan dengan kaki orang dewasa yakni Demokrasi yang dianggap sebagi nilai dan sistem yang sudah lama ada.
Rusia saat ini masih belum mampu menyelenggarakan atau mengimplementasikan indikator-indikator sebagai negara demokrasi yang substansi. Namun, menyimpulkan dari garis besar penejelasan Diamond bahwa demokrasi sbagai sebuah sistem politik yang menyelenggarakan pemilu secara teratur, terbuka, dan jujur serta adanya sistem multi partai yang akan mengantarkan pada proses kontes politik telah terlihat di Rusia. Pemilihan umum legislatif atau Duma Negara Rusia pada Desember 2011 dan pemilihan umum presiden pada 4 Maret 2012 menjadi bukti penting telah terlaksananya syarat demokrasi elektoral dengan adanya pemilihan umum.
Menjelaskan rusia dengan berbagai tindak kontrol terhadap media, kekuasaan yang terpusat pada presiden dan sistem sentralisasi, adanya korporasi, sistem partai yang tidak menjamin terciptanya kompetisi yang sebenarnya, adanya tindakan incumbent untuk melumpuhkan partai oposisi dengan senjata media, dan lain sebagainya akan mengarahkan kita pada suatu konsep mengenai over-managed democracy. OMD harus didesain ulang untuk menghadapi tantangan demokrasi didepan yang tidak mampu diatasi OMD. Rusia bukan berarti bukan negara demokrasi, namun dengan adanya indikator-indikator yang terbaikan Rusia akan menghadapi tantangan selama enam tahun mendatang dibawah rezim Putin.

Daftar Pustaka

Buku
A. Fahrurodji. 2005. Rusia Baru Menuju Dmokrasi: Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya. Edisi 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Schlager, Neil; dan Weisblatt, Jayne.  World Enciclopedia of Political System and Parties Fourth Edition. New York: Fact on File. Inc.
 Suyatno. 2008. Menjelajahi Demokrasi. Bandung: Humaniora
Tilly, Charless. 2007. Democracy. UK: Cambridge University Press

Internet
Kozina, Alena. Why Is Russia Not a Democracy? The Putin Era. Ireland and Europe. Junior Sophister Business, Economics and Social Studies. Diakses dari http://www.spr.tcdlife.ie/seperatearticles/xxarticles/ireeuroperussia.pdf
Oposisi Rusia Protes Kembalinya Putin Sebagai Presiden” diakses dari http://www.voaindonesia.com/content/oposisi-rusia-protes-kembalinya-putin-sebagai-presiden-141400813/105711.html
 “Polisi Rusia Tangkap Puluhan Demonstran yang Protes Stasiun TV Pemerintah” dalam http://www.voaindonesia.com/content/polisi-rusia-tangkap-puluhan-demonstran-yang-protes-stasiun-tv-pemerintah-143277866/106285.html
 “Vladimir Putin jadi Presiden Rusia untuk Ketiga Kali” dapat diakses melalui situs http://metrotvnews.com/read/news/2012/03/05/83927/Vladimir-Putin-jadi-Presiden-Rusia-untuk-Ketiga-Kali/7
“Vladimir Putin Tunjuk Medvedev Jadi Perdana Menteri” diakses dari www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/05/07/m3nqcv-vladimir-putin-tunjuk-medvedev-jadi-perdana-menteri


Jurnal
Hale, E. Henry; dan Lipman, Masha. 2010. Overmanaged Democracy in Russia: Governance Implications of Hybrid Regimes. Carnegie PAPERS Russia and Eurasia Program Number 106  February 2010 This publication can be downloaded at www.CarnegieEndowment.org/pubs.
Kimagge, Daniel. 2009. Russia: selective Capitalism and Kleptocracy. Undermining Democracy 21st Century Authoritarians. Freedom House June 2009
Nichol, Jim. 2012. Russia’s March 2012 Presidential Election: Outcomes and Implications. Congressional Research Service
Oversloot, Hans; dan Verheul, Ruben. Managing Democracy: Political Parties and The State in Russia. Journal of Communist Studies and Transition Politics, Vol.22, No.3, September 2006, pp.383–405
Petrov, Nikolay. 2009. Russia’s Over-manage Dmocracy in Crisis. PONARS Eurasia Policy Memo No. 80 Carnegie Moscow Center September 2009. PONARS Eurasia publications are funded through the International Program of Carnegie Corporation of New York
Rutland, Peter. Democracy in Russia: a Tocquevillian Perspective. Forthcoming in Aurelian Craiutu & Sheldon Gellar (eds.), Conversations with Tocqueville. The Global Democratic Revolution in the 21st Century, (Rowman & Littlefield, 2008)
Robinson, Neil. 2003.  The Political Russia’s Partial Democracy. Political Studies Review: 2003 Vol 1, 149–166



[1] Ditulis oleh Lisvi Naelati Fadlillah dalam rangka tugas mata kuliah Politik dan Pemerintahan Eropa jurusan Ilmu hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang 2012.
[2] Fahrurodji, A. 2005. Rusia BAru Menuju Dmokrasi: Pengantar SEjarah dan Latar Belakang Budayanya. Edisi 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal. 196
[3] Berita yang dirilis pada 5 Maret 2012 dengan judul Vladimir Putin jadi Presiden Rusia untuk Ketiga Kali. Diakses dari http://metrotvnews.com/read/news/2012/03/05/83927/Vladimir-Putin-jadi-Presiden-Rusia-untuk-Ketiga-Kali/7
[4] Robert Dahl dalam buku Suyatno. 2004. Menjelajahi Demokrasi. Bandung: Humaniora. Hal. 42
[5] Ibid.
[6] Charless Tilly. 2007. Democracy. UK: Cambridge University Press. Pg.7
[7] David Held dalam Georg Sorensen. 2003. Demokrasi dan Demokratisasi: Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia yang Sedang Berubah. Terj. Oleh I Made Krisna. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 15
[8] Op.cit.
[9] Charless Tilly. 2007. Democracy. UK: Cambridge University Press. Pg.7
[10] Piano dan Puddington dalam Ibid.
[11] David Held dalam Georg Sorensen. 2003. Demokrasi dan Demokratisasi: Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia yang Sedang Berubah. Terj. Oleh I Made Krisna. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 14
[12] Suyatno. 2008. Menjelajahi Demokrasi. Bandung: Humaniora. Hal.41
[13] Ibid. hal. 42
[14] Op.Cit. 43
[15] Daniel Kimagge. 2009. Russia: selective Capitalism and Kleptocracy. Undermining Democracy 21st Century Authoritarians. Freedom House June 2009
[16] Ibid.
[17] Alena Kozina. Why Is Russia Not a Democracy? The Putin Era. Ireland and Europe. Junior Sophister Business, Economics and Social Studies. Diakses dari http://www.spr.tcdlife.ie/seperatearticles/xxarticles/ireeuroperussia.pdf
[18] Henry E. Hale, Masha Lipman, dan  .2010. Overmanaged Democracy in Russia: Governance Implications of Hybrid Regimes. Carnegie PAPERS Russia and Eurasia Program
Number 106  February 2010 This publication can be downloaded for free at www.CarnegieEndowment.org/
pubs.
[19] Nikolay Petrov. 2009. Russia’s Over-manage Dmocracy in Crisis. PONARS Eurasia Policy Memo No. 80 Carnegie Moscow Center September 2009. PONARS Eurasia publications are funded through the International Program of Carnegie Corporation of New York
[20]  Henry E. Hale, Masha Lipman, dan  .2010. Overmanaged Democracy in Russia: Governance Implications of Hybrid Regimes. Carnegie PAPERS Russia and Eurasia Program
Number 106  February 2010 This publication can be downloaded for free at www.CarnegieEndowment.org/
pubs.
[21] Nikolay Petrov. 2009. Russia’s Over-manage Dmocracy in Crisis. PONARS Eurasia Policy Memo No. 80 Carnegie Moscow Center September 2009. PONARS Eurasia publications are funded through the International Program of Carnegie Corporation of New York
[22] Fahrurodji, A. 2005. Rusia BAru Menuju Dmokrasi: Pengantar SEjarah dan Latar Belakang Budayanya. Edisi 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal. 186
[23] Enciclopecy of Political System and Parties
[24] Vladimir Putin Tunjuk Medvedev Jadi Perdana Menteri diakses dari www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/05/07/m3nqcv-vladimir-putin-tunjuk-medvedev-jadi-perdana-menteri
[25] Jim Nichol. 2012. Russia’s March 2012 Presidential Election: Outcomes and Implications. Congressional Research Service
[26] Hasil pemilihan ini dapat dijumpai dalam berita dengan kepala judul “Vladimir Putin jadi Presiden Rusia untuk Ketiga Kali” dapat diakses melalui situs http://metrotvnews.com/read/news/2012/03/05/83927/Vladimir-Putin-jadi-Presiden-Rusia-untuk-Ketiga-Kali/7
[27] Jim Nichol. 2012. Russia’s March 2012 Presidential Election: Outcomes and Implications. Congressional Research Service
[28] Lihat dalam “Oposisi Rusia Protes Kembalinya Putin Sebagai Presiden” diakses dari http://www.voaindonesia.com/content/oposisi-rusia-protes-kembalinya-putin-sebagai-presiden-141400813/105711.html
[29] Lihat dalam “Tiga Cara Dugaan Kecurangan Kemenangan Putin” diakses dari http://international.okezone.com/read/2012/03/05/414/587614/tiga-cara-dugaan-kecurangan-kemenangan-putin
[30] Jim Nichol. 2012. Russia’s March 2012 Presidential Election: Outcomes and Implications. Congressional Research Service
[31] Nikolay Petrov. 2009. Russia’s Over-manage Dmocracy in Crisis. PONARS Eurasia Policy Memo No. 80 Carnegie Moscow Center September 2009. PONARS Eurasia publications are funded through the International Program of Carnegie Corporation of New York
[32] Hans Oversloot dan Ruben Verheul. Managing Democracy: Political Parties and The State in Russia. Journal of Communist Studies and Transition Politics, Vol.22, No.3, September 2006, pp.383–405
ISSN 1352-3279 print=1743-9116 online
DOI: 10.1080=13523270600855795 # 2006 Taylor & Francis
[33] Ibid.
[34] Op.cit
[35] Polisi Rusia Tangkap Puluhan Demonstran yang Protes Stasiun TV Pemerintah dalam situs http://www.voaindonesia.com/content/polisi-rusia-tangkap-puluhan-demonstran-yang-protes-stasiun-tv-pemerintah-143277866/106285.html
[36] Peter Rutland. Democracy in Russia: a Tocquevillian Perspective. Forthcoming in Aurelian Craiutu & Sheldon Gellar (eds.), Conversations with Tocqueville. The Global Democratic Revolution in the 21st Century,
(Rowman & Littlefield, 2008)
[37]Neil Robinson. 2003.  The Political Russia’s Partial Democracy. Political Studies Review: 2003 Vol 1, 149–166.