Sabtu, 22 Desember 2012

Memulai Masturbasi Kata

let's the wind leads us without losing our grip
Hari keduaku bersua denganmu kita menjumpai awan yang diselimuti mendung. perlahan naum pasti mendung yang digiring dari barat itu membuatmu bersedih, dan menangislah kamu perlahan-lahan, sangat pelan hingga kemudian menjadi sangat tak tenang dan awanpun hilang oleh suaranya sediri yang riuh lewat tetes-tets yang diturunkan. tapi tak apalah hari ini kau menangis awan, biar aku hibur kau dengan sebuah catata masturbasiku. kau tahu bukan bahwa aku akhir-akhir ini jarang sekali keluar menemuimu?, maka tak ada perbincangan bermanfaat yang kita lakukan seperti biasanya, dan jadilah tulisan-tulisanku ini hanya masturbasi.


Aku bermasturbasi lewat kata-kata yang digubah untuk menggubah hati siapa saja yang membacanya. sekalipun aku. sekalipun kamu, kau, dia. sekalipun semut yang tak menangkap kata-kataku. Aku mau. tanpa dialog. tanpa diskusi. tanpa bincang-bincang. tanpa obrolan. aku berceloteh tanpa henti. aku senang terkadang tapi kesakitan kemudian. aku mengerti bahwa ini hanya masturbasi. antara khayalanku dengan dimensi nyataku. aku begitu. aku tak tau aku begitu. dan aku tau aku masih mau begitu. sedang aku tak tau kapan aku akan masih mau begitu.

Sejatinya perjalanan membentuku menjadi begitu. Bilamana seseorang dididik waktu yang tentu dengan segala jalan hidup yang tak tentu dan bukan hidup tertentu yang ditentu melulu. Aku begitu. Aku begitu tak tahu malu untuk selalau bersenandung dalam waktu-waktu tak tentu. Menari-nari dalam waktu tak tentu. Berkhotbah dihadapanku sendiri tak tentu. Memerintah dengan malas pada diriku dengan tak tentu pula. Aku tahu aku begitu dan masih bisa begitu. Bacalah kawan! Berdiskusilah kawan! Menyanyilah kawan! begitulah yang kudengar dimana-mana didengungkan dan terus berdengung ditelingaku bahkan kepalaku. Rasanya sakit dan menggaung-gaung tak jelas. Lalu kau tau apa? aku tak melakukan kesemuanya. ah, sudikah aku begitu? aku belum bisa kawan! lalu sudikah kau dengar dan baca kata-kata masturbasiku? haha, ini lagi-ini lagi. masturbasi lagi-masturbasi lagi. biar sudah, biar kau percaya bahwa aku iya. Hanya berkata-kata supaya aku bahagia. ingat, bahagia dan bukan puas.

Langit mengajari kita tentang keluasan memberi keleluasaan untuk bebas berpikir dan memikirkan. Dengan sedikit goresan awan-awan kecil dan goresan-goresa aneka warna memberikan sedikit gambaran dan provokasi kita untuk menyebut mereka mega, atau mendung. Lamgit biru membentangkan keluasan untuk keleluasaan kita bercengkrama dengan diri kita. Menerka dan menilai apa diri kita dan mereka. Lalu biar saja biru langit yang indah kita artikan sama sebagai luasnya permadani ide. Maka bolehlah lagi aku menghargai diri dengan alasan ini untuk kembali bermasturbasi dengan kata-kata yang bahkan aku sendiri kurang mengerti. Langit hanya memberi soal, dan kita dipersilahkan untuk menjawab tanpa diinterupsi. Tapi disini aku memberi keleluasaan bagi diriku untuk berekspresi dengan memohon agar tak diinterupsi.

Hujan memberikan kita makna memberi. Namun jangan salah bahwa mereka tak meminta. Mereka meminta apa yang kita miliki, yakni ketakutan dan harapan yang tak lain hanya untuk Sang.

ah, sudahi dululah. lama-lama kalau dilama-lamain malah jadi lama dan ngalntur. capek juga ngalntur dan masturbasi kata-katanya. meskipun padalah belum seberapa juga. tapi sekian dululah ya.


Salam damai,
 23/12/'12
01:15
Lisvy Nael Khatoon
-Lyn-

Rabu, 19 Desember 2012

Memulai

Hari ini tanggal 20 Desember 2012 dan pagi pertama untuk kelahiran blog baruku, temanku. Hari ini temanya bebas sebenarnya, tapi apa boleh kubuat tetap saja judul kumuat, Memulaui. Aku pernah bertanya bagaimana pagi selalu datang dipagi hari dan ia tak pernah disiang hari?, mungkin ada yang mau menjawabnya untuku?. perlahan dengan kebimbangan aku tumbuh menjadi orang yang selalu bertanya dan sering malas untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, kegusaran, dan keresahanku karena orang-orang akan menertawaiku seolah aku anak kecil. aku anak kecil yang menanyakan hal-hal yang kekanak-kanakan mereka bilang. dengan begitu aku sekarang lebih memilih memelihara anak-anak dalam kepalaku sehingga aku akan selalu bebas bertanya tanpa takut akan dikutuk. tapi kemudian aku bertanya "bagaimana aku mendapatkan jawaban jikaku begitu?" perputaran bumi bukanlah tanpa sebab atau dikarenakan hembusan angin yang terus menerus sehingga membuatnya berputar dari porosnya dan yang manusia sebut lewat ilmunya dengan berotasi. bumi yang berputar bukanlah tanpa sebab atau dikarenakan banyaknya manusia yang berlari berputar dan selalu berpikir berputar-putar bahkan lebih banyak lagi yang berbicara mutar-mutar dan memutarkan kata-kata berkelit ini itu demi membenarkan perbuatanya. perutaran bumi bukanlah tanpa sebab atau dikarenakan matahari yang selalu berpindah-pindah dengan konsistenya dari timur ke barat dan begitu seterusnya hingga tiada lagi mereka. perputaran bumi itu sendiri hanyalah thawaf yang diniatkan untuk penyembahan yang bermaksud untuk mengajarimu bagaimana pentingnya waktu berlalu. matahari dan bulan sebagai penanda bahwa waktu itu ada dan ia akan berlalu bersama dengan berlalunya bumi dan tata surya bukanya Roy Suryo, haha. Matahari mungkinkah ia majnun abadi?, yang mencintai bulan tiada henti sedang ia tak parnah pula merengkuh sang bulan. jikapun ia dapat maka akan mereka dapati pula kehidupan yang menyengsarakan. seperti Majnun kepada Laiala yang membawa petaka ketika bagaimana mereka keduanya memaksa bisa. maka terlaksanlah bencana dan petaka. maka begitulah cerita yang dihembuskan agar kita tak perlu membabi buta dalam bercinta. cukuplah menjadi matahari dan bulan tanpa harus menjadi Majnun dan Laila. justru jarak memberi kita kesempatan untuk bisa bernafas setidaknya, berfikir sesempatnya, dan berjalan sesantainya, serta memandang sesukanya. haha, bagaimana mungkin peribahasa ini akan aku luputkan "gajah dipelupuk mata tak nampak sedang semut dieberang pulau nampak." begitulah jarak, bagaimana mungkin gajah yang menutupi pelupuk matamu akan nampak sedang ia tiada memberi jarak antara matamu dengan tubuh gempalnya. sedangkan lihat semut yang diseberang pulau, hanya dengan lambaian kecil ia nampak begitu bersemangat, ia sangat nampak meskipun kecil. bukan karena besar atau kecil bukan sesuatu itu akan nampak, hanya masalah jarak. maka begitulah antara matahari dan bulan yang memberikan kesempatan pada kita untuk menikmati mereka dengan memberi jarak pada keduanya dan pada kita. pagi, siang, sore, dan malam. siapakah yang membuat mereka? jangan kau jawab tak ada! bukankan mereka ada karena kita yang mengkonsepsinya. kita begitu bersemangat dengan matahari yangn muncul pertama dengan pelan perlahan membelai lembut menyentuh kening kita dengan kecup. pertama kita membuka mata dan matahari menyapa menjadi pagi yang begitu indah. itulah pagi yang kita cipta sehingga kita tak perlu berpanjang bicara "kemarin waktu pertama matahari muncul" atau "matahari pertama tadi itu" sungguh aneh bukan jika tak ada pagi, maka begitupun aku merasa aneh harus menulis "matahari pertama tadi" haha. aku bosan menunggu jawaban atas kebingunganku "bagaimana pagi hanya datang dipagi hari? dan kenapa ia tidak datang disiang hari?". jadilah aku menjadi sok tau dan bermasturbasi dengan memberikan jawaban sendiri supaya aku puas dan diam. karena mereka orang dewasa bukanya menjawab pertanyaanku malah memberiku permen agar aku berhenti berceloteh. aku mati jika begitu. terbuai pada manisnya permen dan bodohnya pertanyaanku. pagi datang sebagai awal untuk semua kehidupan. meskipun pagi tidak datang secara serempak dan kompak. mana bisa begitu? bayangkan saja apa jadinya! tapi mungkin indah juga ketika aku yang dibumi Jawa mengucapkan "selamat pagi" pada kawanku si hitam Obama di gedung putih sana yang justru harusnya sekarang disana gelap malam sedang begadang. pagi datang sebagai awal. dan begitupun kita hidup dimuali dengan memulai. sudah harusnya dirangkai ketika ada kata mulai maka ada kata akhir. memulai berarti ada mengakhiri. yang perlu diingat disini adalah bahwa diantara "memulai" dan "mengahiri" selalu ada penengah yang kita sebut kehidupan. kehidupan dimana dimuali dipagi hari dan kita akhiri ketika malam datang. diantara pagi dan malam tentu ada siang dan sore yangmenjadi jarak baginya. apa jadinya jika mulai dan akhir bertemu?. saya tak mau memikirkanya karena bayangan itu terasa begitu menyeramkan dalam kepalaku. ah, aku sudah memulai menulis tulisan sampah ini untuk dibaca oleh orang-orang sampah (oh, kau tak boleh marah. bukan maksudku untuk mengatakan kau ini sampah, ini hanya permulaan . jadi sabarlah sejenak ketika aku mneybut kita begitu). karena kita, eh saya sudah memulai tulisan ini maka ijinkan saya untuk mengakhirinya pula. kau benar tentang mana tengahnya...???? itu seperti siang dan sore yang membosankan bagi kita semua sehingga kita ingin mengahirinya dengan segera. jadi mungkin begitu tengahnya, begitu membosankan sehingga terasa begitu singkat (haha itu memang silat lidahku untuk membela diri bahwa aku banyak omong kosong dan tidak membicarakan apa-apa diantara awal dan akhir tulisan ini). sudah ya,,,sudah mau siap-siap memulai yang lain supaya saya dapat mengahirinya dengan segera. karena tampaknya apa yang hendak saya mulai ini begitu lebih membosankan dibandingkan dengan duduk berhadapan denganmu dengan jarak layar-layar ini. (argh,,,lama sekali kau pergi) "oke,,oke,,,ini aku pamitan." hari ini kamis 20 Desember 2012, tepat aku handak memulai yang perlu kumulai. Malang, 08:50. Lisvy Nael Khatoon -Lyn-