![]() |
| let's the wind leads us without losing our grip |
Hari keduaku bersua denganmu kita menjumpai awan yang diselimuti mendung. perlahan naum pasti mendung yang digiring dari barat itu membuatmu bersedih, dan menangislah kamu perlahan-lahan, sangat pelan hingga kemudian menjadi sangat tak tenang dan awanpun hilang oleh suaranya sediri yang riuh lewat tetes-tets yang diturunkan. tapi tak apalah hari ini kau menangis awan, biar aku hibur kau dengan sebuah catata masturbasiku. kau tahu bukan bahwa aku akhir-akhir ini jarang sekali keluar menemuimu?, maka tak ada perbincangan bermanfaat yang kita lakukan seperti biasanya, dan jadilah tulisan-tulisanku ini hanya masturbasi.
Aku bermasturbasi lewat kata-kata yang digubah untuk menggubah hati siapa saja yang membacanya. sekalipun aku. sekalipun kamu, kau, dia. sekalipun semut yang tak menangkap kata-kataku. Aku mau. tanpa dialog. tanpa diskusi. tanpa bincang-bincang. tanpa obrolan. aku berceloteh tanpa henti. aku senang terkadang tapi kesakitan kemudian. aku mengerti bahwa ini hanya masturbasi. antara khayalanku dengan dimensi nyataku. aku begitu. aku tak tau aku begitu. dan aku tau aku masih mau begitu. sedang aku tak tau kapan aku akan masih mau begitu.
Sejatinya perjalanan membentuku menjadi begitu. Bilamana seseorang dididik waktu yang tentu dengan segala jalan hidup yang tak tentu dan bukan hidup tertentu yang ditentu melulu. Aku begitu. Aku begitu tak tahu malu untuk selalau bersenandung dalam waktu-waktu tak tentu. Menari-nari dalam waktu tak tentu. Berkhotbah dihadapanku sendiri tak tentu. Memerintah dengan malas pada diriku dengan tak tentu pula. Aku tahu aku begitu dan masih bisa begitu. Bacalah kawan! Berdiskusilah kawan! Menyanyilah kawan! begitulah yang kudengar dimana-mana didengungkan dan terus berdengung ditelingaku bahkan kepalaku. Rasanya sakit dan menggaung-gaung tak jelas. Lalu kau tau apa? aku tak melakukan kesemuanya. ah, sudikah aku begitu? aku belum bisa kawan! lalu sudikah kau dengar dan baca kata-kata masturbasiku? haha, ini lagi-ini lagi. masturbasi lagi-masturbasi lagi. biar sudah, biar kau percaya bahwa aku iya. Hanya berkata-kata supaya aku bahagia. ingat, bahagia dan bukan puas.
Langit mengajari kita tentang keluasan memberi keleluasaan untuk bebas berpikir dan memikirkan. Dengan sedikit goresan awan-awan kecil dan goresan-goresa aneka warna memberikan sedikit gambaran dan provokasi kita untuk menyebut mereka mega, atau mendung. Lamgit biru membentangkan keluasan untuk keleluasaan kita bercengkrama dengan diri kita. Menerka dan menilai apa diri kita dan mereka. Lalu biar saja biru langit yang indah kita artikan sama sebagai luasnya permadani ide. Maka bolehlah lagi aku menghargai diri dengan alasan ini untuk kembali bermasturbasi dengan kata-kata yang bahkan aku sendiri kurang mengerti. Langit hanya memberi soal, dan kita dipersilahkan untuk menjawab tanpa diinterupsi. Tapi disini aku memberi keleluasaan bagi diriku untuk berekspresi dengan memohon agar tak diinterupsi.
Hujan memberikan kita makna memberi. Namun jangan salah bahwa mereka tak meminta. Mereka meminta apa yang kita miliki, yakni ketakutan dan harapan yang tak lain hanya untuk Sang.
ah, sudahi dululah. lama-lama kalau dilama-lamain malah jadi lama dan ngalntur. capek juga ngalntur dan masturbasi kata-katanya. meskipun padalah belum seberapa juga. tapi sekian dululah ya.
Salam damai,
23/12/'12
01:15
Lisvy Nael Khatoon
-Lyn-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar